dimana X dan Y adalah koordinat spasial...

Jumat, 29 April 2011

Cinta dan Benci

Yang ini juga nemu..hihi...



             Ini adalah hari pertama Sisi masuk sekolah baru. Ia dan keluarganya baru saja pindah dari Bandung. Di Jakarta ini, ia berniat mencari teman lamanya.
            Sisi pernah tinggal di Jakarta saat ia berumur 3 - 5 tahun. Dan sekarang ia telah berumur 17 tahun. Saat ayahnya pindah tugas, ia pun mengikuti ayahnya ke Bandung. Kali ini, ia kembali lagi ke Jakarta.
            Sewaktu di Jakarta, Sisi pernah mempunyai teman bermain bernama Bimo. Sekarang, Sisi berniat mencari Bimo kembali.
            Di sekolah, terlihat Bimo sedang berjalan bersama teman-temannya. Anton dan Gery. Tapi dari arah berlawanan, Sisi lari terburu-buru karena sebentar lagi bel berbunyi. Dan tanpa sengaja, ia pun menabrak Bimo.
            “Aduh!!! Punya mata nggak sih loe? Meleng aja!!!” bentak Bimo.
            “Sory… Tapi gue buru-buru…” kata Sisi sedikit takut dan langsung meninggalkan Bimo.

            “Gila tu cewek! Nggak sopan amat! Udah nabrak, langsung kabur… Siapa sih dia? Kalau ketemu lagi bakal gue sobek-sobek tu cewek!” Bimo emosi.
            “Ah, elo… Kaya’ Tukul aja! Lagian cewek secantik itu loe omel-omelin. Ingat karma, Bim!” kata Gery mencoba meredam emosi Bimo.
            “Maksud loe apaan, sih? Gue nggak ngerti!”
            “Maksudnya Gery, kali ini loe boleh benci sama dia. Tapi hati-hati, ntar malah loe jatuh cinta sama tu cewek!” Anton ikut-ikut.
            “Ah, loe pada ngomong apa, sih? Gue nggak peduli. Mending sekarang kalian bantu gue cari identitas tu cewek! Kelas berapa dan namanya siapa! Kalau udah, bakal gue samperin tu cewek!”
            Lalu mereka pun segera kembali ke kelas karena takut terlambat.
            Di kelas, Bimo memandangi fotonya bersama Sisi 12 tahun yang lalu. Ternyata ia juga masih merindukan Sisi.
            “Bim, aku mau pindah ke Bandung…” kata Sisi waktu itu.
            “Ke Bandung? Jauh sekali… Tapi kamu pulang kan, Si?” Bimo terkejut.
            “Nggak tau… Tapi aku akan pulang ke sini buat kamu, Bim… Soalnya kamu temanku yang paling baik…” kata Sisi polos.
            “Si, jangan lupa sama aku, ya!” kata Bimo sedikit kecewa.
            “O iya, bagaimana kalau kita foto buat kenang-kenangan? Siapa tau kita bisa ketemu lagi.”
            “Oke.”
            Percakapan itu terus terngiang-ngiang dalam benak Bimo.
            Salah satu foto itu ada pada Bimo dan Sisi. Sedang yang lain mereka kubur di taman tempat mereka biasa bermain.
            Tiba-tiba, “Bimo! Maju ke depan dan kerjakan soal ini! Melamun saja kau ini…” teriak Bu Farida.
            Untung bel istirahat berdering, jadi Bimo nggak jadi maju, deh!
            Bimo berjalan ke kantin sendirian sambil terus memandangi foto Sisi karena Anton dan Gery pergi mencari tau siapa Sisi.
            “Si, mungkin kita emang nggak pernah ketemu lagi. Tapi loe mesti tau kalau ternyata loe itu cinta pertama gue. Gue akan terus nunggu, Si…” kata Bimo dalam hati.
            Lalu tiba-tiba Gery lari ke arah Bimo sambil teriak-teriak.
            “Bim… Bimoooo… Dapet, Bim!! Dapet!”
            “Loe itu ngapain sih, Ger? Brisik tau! Lagian loe kan cowok, mana mungkin loe dapet?! Aneh!”
            “Maksud gue, gue udah tau siapa cewek yang tadi pagi nabrak elo, Bim!” kata Gery dengan napas putus-putus.
            “Yang bener loe, Ger? Siapa? Kelas berapa? Cepetan, dong!!” Bimo nggak sabaran.
            “Tapi beliin gue es teh! Cepetan! Keburu mati ni gue…”
            Setelah minum, Gery dan Anton menceritakan pada Bimo.
            “Dia anak baru pindahan Bandung-”
            “Jadi anak baru? Pantes belum kenal Bimo!” kata Bimo memotong kata-kata Gery.
            “Loe diem dulu! Gue belum selesai ngomong. Dia anak kelas X3. Namanya Sisi-”
            “Sisi?”
            “Loe hobby banget sih motong kata-kata gue! Diem dulu napa?”
            “Iya-iya… Terusin, deh…”
            Setelah semuanya jelas, mereka bertiga langsung nyari Sisi.
            “Eh, itu-tu-tu-tu… Itu Sisi bukan, Bim?”
            “Nggak salah lagi!”
            Bimo pun langsung nyamperin Sisi.
            “Heh, loe cewek yang tadi pagi nabrak gue kan? Nggak sopan banget sih loe? Sekarang, loe mesti minta maaf ke gue! Cepetan!!!” Bimo marah-marah.
            “Tapi tadi pagi gue kan juga dah minta maaf...” Sisi mulai berani.
            “O… Jadi loe belum tau ya siapa gue? BIMO!! Penguasa sekolah ini! Ngerti loe?”
            “Trus?”
            “Trus ya loe mesti nurutin semua perintah gue! Kalau enggak…”
            “Kenapa kalau enggak?”
            “Gila ni cewek! Berani banget loe!?”
            “Gue nggak salah kok… Jadi kenapa mesti takut sama loe? Emang loe pikir loe itu siapa? Cuma Bimo kan? Bukan Arjuna!”
            Karena kesal, Bimo pun menampar Sisi. Dan anehnya, Sisi menampar Bimo balik.
            Karena bel berdering, mereka pun bergegas ke kelas dengan perasaan dendam yang masih menyala-nyala.
            Lagi-lagi Bimo memandangi foto Sisi kecil.
            “Si, gue panggil loe Sisi kecil aja, deh! Tau nggak, Si? Tadi gue ketemu cewek sinting yang berani banget sama gue. Dan namanya tu sama kaya’ kamu, Sisi juga. Tapi kalian beda banget dan nggak mungkin itu Sisi kamu. Gue kasih nama dia Sisi Sihir. Soalnya dia kaya’ nenek sihir gitu, Si…” kata Bimo dalam hati sambil cengar-cengir.
            Sejak saat itu, Sisi dan Bimo nggak pernah akur.
            Sisi, Lola dan Bety berniat menyusun rencana untuk balas dendam pada Bimo.
            “Aku tau!” kata Bety.
            Setelah mendapat ide cemerlang dari Bety, mereka segera mengatur waktu dan strategi.
            Sekarang terlihat Sisi datang kepada Bimo untuk minta maaf.
            “Bim, gue nyesel udah musuhan sama loe. Soalnya loe itu cowok cakep, Bim… Dan kaya’nya… Gue jatuh cinta, Bim…” kata Sisi menghayati.
            “Akhirnya loe nyadar juga kalau gue cakep. Oke, gue bisa kok maafin loe.”
            “Kalau gitu, sekarang kita salaman, ya? Tapi sebelum itu, gue boleh pegang pipi loe kan?”
            “Oke.”
            Sisi pun segara mengelus pipi Bimo dan seketika wajah Bimo berwarna hitam. Dan mereka segara berjabat tangan.
            “Makasih ya, Bim…” kata Sisi yang langsung berlalu.
            Bimo berniat ke kelas untuk menghampiri Anton dan Gery dan ingin segera menceritakan semua kejadian ini.
            Namun setiap Bimo berpapasan dengan teman-temannya, mereka semua menertawakan Bimo tanpa henti.
             “Bokap loe pengusaha arang, ya, Bim?” sindir teman-temannya.
            Karena Bimo nggak tau, ia pun jalan dengan PDnya. Bahkan ia masih sempat tebar pesona dan godain cewek-cewek.
            “Hai, cewek… Mau jadi pacar gue?”
            Tapi mereka malah menertawakan Bimo habis-habisan.
            “Apaan, sih? Gue lucu kali, ya? Biasa, resiko orang ganteng!” kata Bimo dalam hati.
            “Ger, gue punya kabar bagus!”
            Tapi Gery, Anton, dan semua teman-teman sekelas Bimo malah menertawakannya.
            “Muka loe kenapa, Bim?”
            “Muka gue? Emang kenapa, sih?”
            Gery dan Anton langsung membawa Bimo ke depan kaca kamar mandi.
            “Buseeeettt!!! Kenapa ni muka? Koq item-item gini? Brengsek tu cewek!”
            “Emang siapa yang brengsek, Bim?” Tanya Anton.
            “Siapa lagi kalau bukan si nenek sihir sinting itu! Tadi dia ngajak baikan gue. Trus dia ngelus pipi gue gitu. Taunya cuma ngerjain gue doang! Brengsek! AWAS LOE!!!!” kata Bimo sedikit nggak terima dengan perlakuan Sisi.
            “Eh, Bim… Mau kemana loe?” Tanya Anton.
            “Kasih pelajaran tu cewek!”
            “Tunggu, Bim! Loe inget kan, kita nggak dapet apa-apa waktu ngomel-omelin dia habis-habisan. Tapi sekarang lihat, dia berhasil balas dendam ke elo dengan cara halus kaya’ gini. Mending sekarang kita atur strategi buat balas dendam aja, deh! Gimana?” terang Anton.
            “Oke juga saran loe! Loe emang temen gue yang paling pinter, Ton. Jadi kita mau balas dendam kaya’ gimana ke dia?”
            “Gini, Bim…”
            Mereka bertiga pun meeting dadakan untuk menyusun rencana.
            “Bet, makasih ya buat ide loe… Tadi tu berhasil banget!!!” puji Sisi pada Bety.
            “Sama-sama lagi, Si… Lagian gue juga BETE sama Bimo.” Kata Bety.
            “Tapi, Si… Kalau Bimo marah ma loe gimana?” Tanya Lola.
            “Emang gue takut? Tu cowok kan otaknya di dengkul, jadi paling cuma maki-maki gue doang! Biarin aja, deh! Sekarang, gimana kalau kita makan-makan di kantin buat ngrayain keberhasilan kita?”
            “Oke, deh! Tapi loe yang traktir, ya?”
            “Beres!!”
            Tiba-tiba saat mereka makan di kantin, Bimo datang sambil membawa bekal.
            “Si, gue nggak marah… Asal loe mau makan bekal buatan nyokap gue ini, Si… Mau kan?” kata Bimo dengan muka memelas berharap Sisi mau membuka kotak bekal itu.
            “Iya, deh, Bim… Makasih, ya…”
            “Sama-sama… Ya udah gue mau nyontek PR dulu.” Kata Bimo yang langsung ngumpet.
            Saat Sisi membuka kotak itu, ia berteriak karena kecoak-kecoak muncul dari dalam kotak itu dan berlarian ke sana kemari dan membuat kantin ribut.
            Seisi kantin langsung menjerit dan kantin menjadi kacau.
            “Ada apa ini?” Tanya pak Kepala Sekolah.
            “Kecoak, pak?” kata seorang murid.
            “Kecoak? Siapa yang membuat kegaduhan ini semua?”
            “Bimo, pak!” kata Sisi.
            Bimo pun akhirnya di bawa ke kantor BP.
            “Apa maksud kamu?” Tanya bu Faria, guru BP di sekolah itu.
            “Maaf, bu… Tapi tadi saya hanya bercanda.” Kata Bimo takut.
            “Bercanda kata kamu? Baiklah, saya tidak mau bicara panjang lebar. Sekarang, kamu ambil surat panggilan orang tua ini dan bawa orang tuamu besok.” Kata bu Farida singkat tak mau tahu.
            “Tapi, bu…”
            “Tidak ada tapi-tapian! Bawa mereka kemari atau kamu akan-”
            “Baiklah, bu…”
            Setelah keluar dari ruang BP, Bimo pun ngomel-ngomel nggak jelas.
            “Gimana, Bim?” Tanya Anton.
            “Nih…” kata Bimo sambil memberikan surat panggilan itu pada Anton. “Gara-gara cewek brengsek itu gue jadi kena masalah sama bu Farida.”
            “Apa, Bim? Bonyok loe dipanggil? Trus, Bim?” Tanya Gery.
            “Tau, deh…” kata Bimo sambil garuk-garuk kepala.
            Sejak saat itu Sisi semakin membenci Bimo begitu pula dengan Bimo. Mereka nggak pernah akur. Kaya’ kucing dan anjing gitu…
            Tiap tahun, pasti diadakan camping bersama untuk saling mengenal satu dan yang lainnya. Dan supaya mereka mendapat teman yang lebih banyak, mereka pun diacak untuk bis dan kelompoknya.
            “Eh, Bim, loe nggak lihat pengumuman bis sama kelompok camping, ya?” Tanya temannya.
            “Emang udah dipasang?”
            “Udah. Baru aja dipasang sama pak Bondan.”
            “Ya udah, kalau gitu gue ke sana dulu, ya?!”
            Bimo, Anton, dan Gery pun segera meluncur ke papan pengumuman dan ingin segera melihat acara campingnya.
            “Bim, gue di bis 1. Tapi kok loe nggak ada, ya?” Tanya Anton.
            “Gue di bis 3, Ton.” Kata Bimo.
            “Loe, Ger?” Tanya Anton dan Bimo kompak.
            “Mana, ya? Belum ketemu!” kata Gery.
            “Ah, elo! Lemot tau!!!”
            “Nah, ini!”
            “Di mana?”
            “Di bis nomor 1, Bim. Berarti gue sama Anton, ya?”
            “Yah, payah! Masak gue sendirian? Mana nggak ada yang gue kenal lagi! Nggak seru banget sih campingnya?” celetuk Bimo.
            “Eh, Bim… Lihat nih!” tiba-tiba Anton menunjuk nama orang yang tepat berada di atas nama Bimo Saputra.
            “Apaan, sih? Hah?!!! Sisi???!!!!” Mata Bimo pun langsung terbelalak melihat nama cewek brengsek itu ada di atasnya dan satu bis dengan dirinya.
            “Gila! Gue nggak mau! Masak gue mesti duduk bareng cewek sinting itu, sih? Ogah!!! Mana kita berdua sekelompok lagi!!!!!! Duuuhhh…. Gue nggak jadi ikut, deh!!! Males, tau!!” Bimo uring-uringan nggak karuan.
            “Makanya, Bim… Nggak usah benci-benci amat… Karma kan?” sindir Anton.
            “Resek, loe!”
            “Eh, Ton. Kita satu bis sama Lola dan Bety, lho…” celetuk Gery.
            “Apa?? Sama Lola?? Asyik, dong! Bisa PeDeKaTe…” kata Anton sambil senyum-senyum sendiri.
            “Jadi loe naksir Lola, ya?” Tanya Bimo.
            “Jujur aja ni, Bim… Iya…” kata Anton.
            “Hmm… Sebenarnya gue juga naksir sama Bety…” kata Gery.
            “Apaaaa????” teriak Anton dan Bimo kompak.
            “Kalian ini gimana, sih? Katanya musuh?! Koq malah cinta???” omel Bimo.
            “Musuh sih musuh… Tapi itu kan elo… Gue nggak pernah benci kok sama mereka, karna gue cuma bantuin elo aja, Bim… So, boleh kan kita suka? Ini masalah perasaan, Bim?” jelas Anton panjang lebar.
            “Terserah!!!” kata Bimo yang nampak kesal dan langsung pergi begitu aja.
            “Bimo marah ya, Ton?” Tanya Gery.
            Anton mengangkat kedua alisnya.
            Mari kita lihat Sisi dan kawan-kawan.
            “Bet, kita satu bis… Nih, di bis nomor 1… Tapi Sisi mana, ya?” kata Lola.
            “Satu bis, La? Yeee… Berarti gue ada temennya, dong!” kata Bety.
            “Gue di bis 3, La…” kata Sisi sedikit kecewa.
            “Loe sekelompok sama siapa, Si?” Tanya Lola.
            “Sama Bimo Aditya… Ngomong-ngomong, yang mana sih orangnya?”
            “Ya ampun!!! Bimo, Si???? Bimo Aditya itu ya Bimo resek itu!!!” kata Lola.
            “Apaaaaaa????? Ihhhh…… Gue nggak mau!!! Gue benci sama dia! Masak gue mesti sekelompok sama dia, sih? Mana kita satu bangku lagi!!! Enggak mau…” teriak Sisi.
            Setelah membaca pengumuman camping itu, Bimo dan Sisi pun saling merenung dan menyesali.
            “Si, kamu tahu nggak aku duduk, satu bis dan sekelompok sama siapa waktu camping?” Tanya Bimo sambil memandangi foto Sisi kecil di kamarnya.
            Foto itu seraya balik bertanya, “Siapa, Bim?”
            “Aku sama Sisi!!! Tapi aku nyesel karna itu bukan Sisi kamu… Tapi malah Sisi nenek sihir jutek itu…” kata Bimo dengan muka kecewa.
            Di kamar Sisi…
            “Bim, camping besok aku duduk sama orang paling nyebelin yang pernah aku critain ke kamu waktu itu… Bimo sok penguasa itu, Bim…” cerita Sisi kepada foto Bimo kecil.
            “Andai aja itu Bimo kamu, Bim… Pasti aku seneng banget, deh…” andai Sisi.
            Lalu mereka pun terlelap dalam mimpi…
            Acara camping yang sangat dinanti-nantikan para siswa siswi pun akhirnya tiba. Mereka mempersiapkan segalanya dengan antusias dan bersemangat. Namun tidak bagi Sisi dan Bimo. Mereka ragu untuk camping.
            “Sayang, kamu kok lemas gitu? Sakit?” Tanya mama Sisi.
            “Enggak kok, ma… Sisi nggak kenapa-kenapa… Sisi berangkat dulu ya, Ma…” pamit Sisi pada mama.
            Sisi pun akhirnya berangkat walau hatinya begitu berat.
            “Kak Bimo, Kak Bimo kenapa? Kak Bimo sakit, ya?” Tanya Sadewa adiknya.
            “Enggak kok, Sad… Kak Bimo nggak sakit. Mama mana?” kata Bimo lesu.
            “Mama sama papa udah pergi ke kantor, Kak…”
            “Ya udah… Kak Bimo berangkat dulu, ya… Nanti tolong pamitin sama mama dan papa ya, Sad…” kata Bimo sambil sambil mengusap rambut adik kesayangannya itu, Sadewa.
            Setelah doa dan pengarahan selesai, pak Bondan mempersilahkan murid-murid untuk segera menempatkan diri ke bis masing-masing.
            Bimo dan Sisi tampak gelisah dan ragu.
            Sementara Anton, Lola, Gery, dan Bety begitu semangat karena di antara mereka berempat, bersemi pohon cinta yang amat besar.
            Bimo pun akhirnya segera masuk karena pak Bondan memaksanya. Begitu pula dengan Sisi. Ia segera masuk karena bu Farida menyuruhnya untuk cepat-cepat.
            Bimo yang masuk terlebih dahulu dan duduk di dekat kaca itu terlihat dengan muka kesal da sebal.
            “Gue mau duduk di dekat kaca jedela. Loe minggir, dong!” kata Sisi nggak sopan.
            “Enak aja! Gue yang duluan! Loe aja yang disini!” Bimo nggak mau kalah.
            “Resek banget sih, loe… Asal loe tahu, ya! Gue duduk disini gara-gara keputusan sekolah, bukan mau gue!” Sisi marah-marah.
            “Siapa juga yang mau duduk sama nenek sihir kaya’ loe? Gue juga eneg tahu sebangku sama loe!!!” ejek Bimo.
            “E-e-e-e… Ada apa ini?” Tanya bu Farida.
            “Enggak ada apa-apa kok, Bu…” kata Sisi menutup-nutupi.
            “Bimo, kamu yang dipinggir, biar Sisi yang di dekat jendela.” Kata bu Fraida.
            “Tapi, bu… Saya pusing kalau duduk di pinggir…” bela Bimo.
            “Bimo, aturannya begitu…” kata bu Farida.
            Akhirnya Bimo pun terpaksa pindah tempat duduk ke pinggir karena bu Farida.
            Dalam perjalanan, mereka tampak dingin. Tak ada obrolan yang tercipta. Hanya keheningan dan rasa penyesalan yang amat dalam.
            Sisi tak tahan dengan kejutekan Bimo dan berasa ingin menangis.
            Sambil menghadap ke jendela, Sisi pun menangis sambil memandangi fotonya bersama Bimo waktu kecil.
            Bimo pun iseng-iseng melihat Sisi. Dan tanpa sengaja, ia melihat foto yang sedang Sisi pandangi.
            “Eh, itu kan foto gue? Loe ngambil, ya?” kata Bimo sambil mengecek fotonya di antara selipan buku.
            “Enak aja! Ini foto gue!” kata Sisi.
            “O iya, foto gue ada di sini… Tapi kenapa foto kita mirip?” Tanya Bimo bingung.
            Sisi pun menceritakan kepada Bimo siapa orang yang ada di foto itu.
            “Jadi kamu Sisi kecil?” Tanya Bimo.
            “Kamu… Kamu Bimo???” Tanya Sisi gagap.
            Mereka seakan-akan tidak mempercayai semua ini dan malah saling diam.
            Namun seketika terlintas semua perbuatan-perbuatan Bimo yang sering membuat Sisi sebal dalam benaknya.
            “Tapi kenapa sekarang kamu nyebelin?” Tanya Sisi.
            “Kamu juga… Setelah sekian lama aku nungguin kamu, tapi ternyata kamu malah jahatin dan jutekin aku!! Aku masih nggak percaya kalau kamu Sisi kecil!!” kata Bimo.
            Namun mereka tetap masih belum percaya satu sama lain dan status mereka masih musuh dan saling benci.
            Sepulang camping, Sisi pergi ke taman tempat ia biasa bermain dengan Bimo dulu. Ia berniat mencari kotak yang berisi surat, foto, dan kenangan mereka yang mereka kubur di bawah pohon.
            Namun ia melihat Bimo disana.
            “Bimo……” kata Sisi.
            “Ngapain loe kesini?” Tanya Bimo.
            “Gue mau cari kotak kenangan gue sekitar 12 tahun yang lalu sama Bimo yang pernah gue critain ke loe.”
            “Apaaaaa???” teriak Bimo terkejut. “Tapi nggak mungkin loe itu Sisi kecil!!!” kata Bimo.
            “Apaan, sih? Minggir! Gue mau cari kotak itu.”
            “Tapi, Si… Gue juga mau cari kotak yang sama kaya’ loe… Dan kaya’nya Bimo yang loe maksud itu GUE…” kata Bimo.
            Mereka berdua pun tampak akur dan saling bercerita satu sama lain.
            Ternyata memang benar. Mereka adalah Bimo dan Sisi kecil.
            Mereka membuka kotak itu bersama dan membaca surat mereka 12 tahun yang lalu.
            Beginilah isi surat Bimo 12 tahun yang lalu, “Si, aku sayaaaaaaaannnnngg banget sama kamu. Soalnya kamu itu cantik, lucu, baik, dan ngemesin. Kalau kita ketemu lagi, apa kamu mau jadi pacarku, Si?”
            Sisi pun membacakan surat yang ia buat 12 tahun yang lalu pada Bimo, “Bimo, maafin aku, ya… Aku harus pindah jauh sekali! Tapi, aku seneng punya temen baik kaya’ kamu. Kamu itu perhatian, baik, cakep, dan aku masih ingat waktu kamu mengobati luka di kakiku ketika aku terjatuh dari sepeda. Bimo, aku ingin menjadi putri bagi pangeran seperti kamu…”
            Seketika mereka berdua tertawa setelah membaca keluguan kata-kata di surat mereka.
            Lalu Bimo pun memamerkan muka serius dan bertanya, “Si, sebenarnya gue jatuh cinta semenjak kita bertemu beberapa bulan yang lalu… Tapi gue bingung dengan perasaan ini. Gue benci banget sama loe, tapi gue juga cinta sama loe, Si…”
            “Bim, sebenarnya gue juga ngrasa begitu… Dan gue juga bingung, Bim...” kata Sisi serius.
            “Apa loe mau maafin dan nglupain semua kejutekan dan kekasaran gue sama loe, Si?” Tanya Bimo berharap.
            “Iya, Bim… Tapi loe juga mesti maafin gue…”
            Mereka pun akhirnya baikan dan di saat itu pula, Bimo menyatakan cintanya pada Sisi. Sisi menerima dengan suka cita.
            Esoknya, terlihat mereka bergandengan mesra di sekolah.
            “Bim, nggak salah???” Tanya Anton dan Gery bingung.
            “Kenalin, cewek baru gue… Sisi…” kata Bimo yang langsung lenyap dari pandangan Anton dan Gery.
            “Si, nggak salah???” Tanya Lola dan Bety.
            “Kenalin, cowok baru gue… Bimo Aditya…” kata Sisi dengan senyum bahagia.
            Lalu Anton, Lola, Gery, dan Bety pun berkata, “Ternyata nggak cuma kita pasangan baru yang lagi bahagia….”
            Akhirnya Bimo pun bahagia dengan Sisi, Anton dengan Lola, dan Gery dengan Bety…….
            Katanya musuh????? Kok jadian…
            Nggak apa-apa lagi…..
            Ini soal perasaan… Hehehe……

Tidak ada komentar:

Posting Komentar